pembahasan mengenai Arent jan wensinck

 

Nurhalisah_IAT3

Uts Takhrij Hadits

 

   Bagi peneliti hadist kegiatan takhrij hadist merupakan langkah wajib yang dilakukan, tanpa melakukan hal itu peneliti hadist akan kehilangan wawasan untuk mengetahui keberadaan hadist didalam kitab induk, beserta sanad dan matannya yang lengkap.  llmu ini berguna bagi para peneliti hadist guna mencari Riwayat hadist dan hadist-hadist sejenis, yang tersebar di berbagai kitab induk hadist.[1] Kegiatan takhrij hadist penting dilakukan oleh peneliti hadist sebelum ia meneliti kualitas sanad sebuah hadist.[2]

   Kegiatan tahkrij hadist tidak semudah mencari ayat dalam Al-Qur’an. Pencarian secara manual masih sangat bisa diterapkan dalam mencari ayat Al-Qur’an, berbeda dengan hadist yang masih harus mengunakan kitab-kitab pendukung dalam mencari kitab hadist yang dimaksud. Dalam hal ini diperlukan kitab yang memudahkan peneliti hadist untuk mencari letak sebuah hadist. Salah satu yang sering digunakan adalah kitab Al-Mu’jam Al- Mufahras li Alfazh Al-Hadith al-Nabawi, karya orientalis Arent Jan Wensinck.

   Arent Jan Wensinck lahir pada tahun 1882 dan wafat pada 1939.[3] Wensinck adalah orientalis asal Belanda yang menjabat sebagai guru besar di Universitas Leiden.[4] Arent Jan Wensinck beranggapan bahwa Al-Qur’an  merupakan hasil buah fikiran Nabi Muhammad.  Eksistensinya dianggap penting sebagai subjek dan objek dalam kajian tentang pemikiran akidah muslim.

   Dalam bidang ilmu Hadist, para orientalis pun memiliki kontribusi positif, terutama penyusunan kitab Al-Mu’jam Al- Mufahras li Alfazh Al-Hadith al-Nabawi, karya orientalis Arent Jan Wensinck. Hamper seluruh perguruan tinggi dan seluruh Universitas Islam di dunia banyak memanfaatkan karyanya tersebut. Orientalis-orientalis terkenal sangat bersungguh-sungguh dalam Menyusun kitab, salah satunya Wensinck. Selain tu juga Wensinck Menyusun kitab yang sejenis dengan itu yakni A Hanbook of Early Muhammadan Tradition yang telah dialihbahasakan menjadi Miftah Kunuz al-Sunnah.

  Kata orientalis sendiri bersumber dari kosakata Bahasa Pracis yakni orient yang secara literalberarti “timur” , sedangkan secara etnologis memiliki pengertian sebagai bangsa-bangsa timur .[5] Menurut KBBI orientalis adalah orang yang ahli Bahasa, kesastraan dan kebudayan timut.[6]  Ada juga yang mengartikan orientalisme sebagai faham atau aliran yang bermaksud mempelajari berbagai hal yang mempelajar berbagai hal mengenai bangsa timur dan juga lingkungan sekitarnya, seperti wilayah Mesir, Persia, dan Arab hingga ke negara Cina, Jepang, dan India serta wilayah-wilayah yang terletak di Afrika Utara.[7]

 

Pemikiran-pemikiran orientalis dalam mengkritik Hadist tidak terlepas dari latar belakang sentiment keagamaan . namun, seiring perkembangan waktu, dari periode ke periode, kajian orientalis telah berubah cara pandang yang awalnya dipicu oleh sentiment keagamaan menjadi kajian-kajian objektif dan dimotori oleh keterbukaan dan keingintahuan intelektual.[8]

  kitab Al-Mu’jam Al- Mufahras li Alfazh Al-Hadith al-Nabawi adalah kamus Hadist untuk mencari hadist. [9]Kamus ini terdiri dari beberapa jilid,kamus ini disusun oleh Arent Jn Wensinck dan beberapa orientalis lainnya. Turut hadir dalam penyusunan kitab ini yakni Muhammad Abdul Baqi’. Mereka telah sukses membuat urutan berbagai kata dan penggalan beberapa hadist dan menyistematikannya dengan baik.

   Kitab ini disusun berdasarkan asumsi bahwa indeks hadist-hadist yang dibuat dengan susunan huruf hijaiyah  mewajibkan seluruh penggunanya untuk memahami secara cermat dan akurat setiap redaksi pertama hadist maka tidak akan bisa nendapatkan dan melacak hadist yang diinginkan. Begitu juga hadist yang indeksnya dengan topik/tema hadist yang dimaksud. Kadang kala emahaman seseorang tentang tema/topik tidak sama dengan pemahaman orang lainnya. Lantas dicarilah solusi yang dapat mempermudah dalam menemukan sebuah hadist. Metode yang mereka pakai adalah berdasarkan redaksi-redaksi (lafadz-lafadz) yang ada didalm isi hadist, terutama redaksi-redaksi yang sering digunakan.[10]

   Langkah yang harus dilakukaan dalam menggunakan buku ini adalah cukup dengan mengetahui salah satu kata yang terdapat dalam satu hadist, kemudian mencari kata yang terdapat dalam buku ini, dan akan ditemukan hadist-hadist yang mengandung kata tersebut,  dan disetiap masing-masing hadist ditulis nama-nama ahli hadistyan menyampaikan dalam kitab hadist induk.[11] Kitab ini memuat Sembilan kitab hadist induk diantaranya:[12]

1.      Sunan Tirmidzi, dilambangkan dengan      ث

2.      Sunan Ibn Majah, dilambangkan dengan جه

3.      Musnad Ahmad Ibn Hanbal, dilambangkan denganحم

4.      Shahih Al-Bukhari, dilambangkan denganخ

5.      Sunan Abi Dawud, dilambangkan denganد

6.      Musnad al-Darimi, dilambangkan denganدى

7.      Muwatta’ Malik, dilambangkan denganط

8.      Shahih Muslim, dilambankan dengan م

9.      Sunan al-Nasa’I, dilambangkan denganن

Contoh penggunaan buku  kitab Al-Mu’jam Al- Mufahras li Alfazh Al-Hadith al-Nabawi adalah jika dibuku itu tertulis: ءا خ  شركة ٣ maka berarti hadist tersebut dapat ditemukan di Bab 3 dan 16 dari kitab asy-syirkah di dalam shahih Al-Bukhari57. Bentuk kata yang dapat dicari di buku ini adalah fi’il madhi,mudhore, isim fa’il dan isim maf’ul.

   Adapun sistematika peulisan buku ini, kata kerja yang memerlukan objek didahulukan dari pada kata kerja  yang tidak memerlukan objek. Demikian juga dengan kata dasar lebih diutamakan atas kata kerja yang telah terdapat tambahan, kata-kata yang marfu’ lebih didahulukan atas yang majrur dan manshub. Kata yang berkedukan mufrad didahulukan daripada mutsanna dan jama’.

   Diantara catatan penting dalam menggunakan kitabAl-Mu’jam Al- Mufahras li Alfazh Al-Hadith al-Nabawi adalah sebagai berikut:[13]

1.      Seluruh nomor setelah nama-nama kitab atau bab yang terdapat didalam kitab shahih al-Bukhari,Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi,sunan An-Nasa’I, sunan Ibnu Majah, Musnad Al-Darimi, menunjukan nomor bab bukan nomor hadist.

2.      Seluruh nomor nama-nama kitab atau bab yang terdapat dalam kitab shahih Muslim dan muwatta’ Malik menunjukan nomor urutan hadist, bukan nomor bab.

3.      Dua nomor yang terdapat dalam Musnad Ahmad Ibn Hanbal, nomor yang ukurannya lebih besar menandakan nomor juz kitab, dan nomor setelahnya atau nomor setelahnya atau nomor yang ukurannya biasa menandakan halaman.

       Penulis mengutip penilaian yang dilakukan oleh Izzan terhadap kelebihan dan kekurangan kitab Al-Mu’jam Al- Mufahras li Alfazh Al-Hadith al-Nabawi.[14]

Kelebihan kitab ini:

1.      Peneliti bisa melakukan takhrij hadist hanya dengan mengetahui beberapa kata dalam hadist, tanpa harus menghapal awal matan hadist, dan tanpa mengetahui tema-tema hadist, dan tanpa mengetahui kualitas hadist.

2.      Hadist ini mengarahkan peneliti pada kitab induk hadist beserta dengan juz dan nomor hadist.

3.      Secara tidak langsung kitab ini sudah banyak memberikan persoalan sanad yang muncul dalam musnad Ahmad bin Hanbal yang kadang-kadang untuk bagian pembacanya menjadi problem tersendiri.

4.      Menghimpun cukup banyak kitab hadist yakni Sembilan

5.      Kitab ini juga dapat mempermudah peneliti hadist yang sedang meneliti hadist tematik. Misalnya peneliti sedang menulis tentang sabar dan mencari hadist-hadist tentang sabar, makai a hanya perlu mencarinya dengan kata shabr.

Kekurangan kitab ini:

1.      Setiap peneliti yang menggunakan kitab ini harus juga erujuk pada kitab induk hadist asli. Karena kitab ini tidak bisa dijadikan satu-satunya sandaran.

2.      Kitab al-Mu’jam tidak terlalu memperhatikan pada aspek kebahasaan

3.      Kitab al-Mu’jab seringkali tidak mentahkrij kitab Sebagian hadist yang sebetulnya ada dalam kesembilan kitab literaturnya, khususnya yang disampaikan oleh imam at-Turmudzi.

4.      Meskipun kitab hadist ini mentakhrij dari kesembilan kitab, tapi tidak secara otomatis bahwa semua hadist-hadist rasul hanya terdapat di kitab-kitab itu

5.      Kitab al-Mu’jam secara tak langsung dengan penyusunan sistematis yang dipakai, bisa melemahkan keseriusan berfikir dan mengurangi keahlian dalam menguasai pokok/tema hadist dan mengenai kitab-kitab lainnya misalkan al-Jami’ al-Ashaghir dan kanzu Al- Ummal disamping menyuguhkan sebuah hadist juga mendorong orang-orang untuk menelusuri lebih jauh hadist-hadist itu berdasarkan topik atau tema yang dimengerti.

 

 

Referensi

http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/journal-of-qran-and- had


        [1] Fauzan Iman,” Ilmu Takhrij Al-Hadist: Sejarah dan Urgensi,”Alqalam10,52(1995):34,https://doi.org/10.32678/alqalam.v10i521517.

        [2] Mohammad S.Rahman, “kajian Matan dan Sanad Hadist dalam Metode Historis, Jurnal al-Syir’ah 8,2

92010):428

        [3] Lativa Latansa Villia, Sejarah dan Perkembangan kritik Hadis”, jurnal Intiyaz1, 1(2017):50

        [4] Jon Pamil , “Takhrij Hadis: Langkah Awal Penelitian Hadis, “Jurnal Pemikiran Islam” 37,1 (2012):55

        [5] Aan Supian, Studi Hadis Dikalangan Orientalisme, “NuansA 9,1 (2016):26 http://ejournal.iainbengkulu.ac.id/indeks.php/nuansa/article/view/370/317

        [6] Rahim,” SejarahPerkembangan Orientalisme,”26

        [7] supian, “Studi Hadis Dikalangan Orientalisme,”27

      [8] Nurul Hakim,”Perspektif Filsafat  Hukum Islam dan Pemikiran Orientalis terhadap Sunnah,”Jurnal EduTech5, 1 (2019):53

 

      [9] hamdan Husain Batubara, Pemanfaatan Ensiklopedi Hadis Kitab 9 Imam sebagai Media dan Sumber Belajar Hadis,” Muallimuna : Jurnal Madrasah Ibtidaiyah 2, 2(2017):64.

     [10] Izzan , Studi Tkhrij Hadis : Kajian Tentang Metogologi Takhrij dan Kegiatam Penelitian Hadis, 28.

 

     [11] , Studi Tkhrij Hadis : Kajian Tentang Metogologi Takhrij dan Kegiatam Penelitian Hadis, 31

 

     [12] Arent Jan Wensinck , al-Mu’jam al-Mufahras  li Alfazh al-Hadits al-Nabawi (Leiden Brill, 1969), 1-2.

       [13] Khon,  Ulumul Hadis,134

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjebak di Sumber kebahagiaan